Tue. Apr 7th, 2020

‘Super Team’ Jadi Kunci Pembangunan Infrastruktur Indonesia

JAKARTA | 14 Januari 2020.  Menjadi tuan rumah untuk penyelenggaraan Asian Games 2018 tentu merupakan kebanggaan tersendiri bagi Indonesia. Tak ayal ajang terbesar di Asia ini menjadi event paling dinanti masyarakat Indonesia pada tahun 2018. Bukan hanya untuk mendukung atlet Indonesia berlaga, tapi juga ingin melihat kemegahan venue yang dihadirkan Indonesia menyambut kontingen se-Asia.

Setidaknya ada 33 venue yang dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di Jakarta dan Palembang. Menyadari beratnya pekerjaan dan sempitnya waktu yang tersedia, Iwan Suprijanto yang saat itu menjabat sebagai Direktur Bina Penataan Bangunan memutar otak agar venue yang dibangun tidak hanya selesai tepat waktu tapi juga layak digunakan.

Sejak diterbitkannya Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2016, Kementerian PUPR hanya memiliki waktu dua tahun untuk membangun infrastruktur yang dibutuhkan. Mulai dari venue pertandingan dan latihan serta sarana penunjang lainnya seperti Wisma Atlet dan Penataan Kawasan. Untuk itu, Iwan menghadirkan terobosan baru untuk menyelesaikan amanah yang diberikan kepadanya.

“Untuk menyelesaikan amanah ini, kami menerapkan terobosan dengan menggunakan kontrak terintegrasi rancang dan bangun (design and build) yang berbasis kinerja, khususnya untuk venue olahraga dengan nilai kontrak besar dan kompleksitas tinggi,” ujar Iwan yang saat ini menjabat sebagai Kepala Pusat Pengembangan Sarana Prasarana Pendidikan, Olahraga, dan Pasar Kementerian PUPR.

Mengerjakan proyek konstruksi bertaraf internasional dalam kurun waktu yang singkat disadari Iwan akan melelahkan. Ia membutuhkan tim yang berdedikasi tinggi, berintegritas, serta mumpuni dan sanggup untuk mengerjakan proyek besar ini. “Karena saya bukan superman dan tidak berusaha menjadikan diri saya superman, untuk itu saya membentuk super team,” jelas pria kelahiran Malang ini.

Pembentukan super team ini membutuhkan kemampuan memimpin yang tinggi. Mulai dari merencanakan pembangunan itu sendiri, hingga memilih tim yang cocok untuk diberikan tanggung jawab, menjadi tantangan tersendiri bagi Iwan.

Menurutnya, dalam tim yang ia bentuk, terpenting adalah membangun mental dan moral. Dalam melaksanakan tugas, Iwan selalu menekankan prinsip 5T kepada para stafnya, yakni tepat waktu, tepat biaya, tepat mutu, tepat administrasi, dan tepat manfaat. Tidak hanya itu, ungkapan ‘hasil tidak akan mengkhianati proses’ juga ditanamkan Iwan dalam diri dan juga stafnya. “Kami bekerja bukan untuk penghargaan, bukan untuk pujian, tapi karena pengabdian,” tegasnya.

Tidak berhenti di pembangunan venue untuk perhelatan Asian Games, Iwan dihadapkan dengan bencana alam di Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Tengah. Bencana gempa di Lombok dan tsunami di Palu dan sekitarnya tersebut meluluhlantakkan sebagian besar infrastruktur utama di daerah itu.

Pemulihan pasca bencana alam, menurut Iwan adalah tugas yang tak kalah penting dalam pembangunan konstruksi Indonesia. Ia menyebut penugasan tersebut sebagai operasi kemanusiaan. Sadar akan bahaya serupa yang mengancam wilayah Indonesia karena letak geografisnya, Iwan kembali unjuk gigi. Ia menyusun buku dan pedoman untuk penanganan tanggap darurat pasca bencana.

“Kedepannya, dimanapun terjadi bencana sudah ada prototype desain hunian sementara yang kami siapkan,” tambah pria yang mengawali kariernya sebagai peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman ini. Tidak hanya menyelesaikan pembangunan pasca bencana alam, saat ini ia ditugaskan oleh Menteri PUPR Basuki Hadimuljono atas arahan Presiden Joko Widodo untuk menangani pemulihan pasca kerusuhan sosial di Papua dan Papua Barat yang terjadi beberapa waktu lalu.

Dedikasi dan kemampuan memimpin Iwan ini juga diakui oleh Menteri PUPR Basuki Hadimuljono. Sejak mengenal Iwan pada tahun 2006, Basuki telah merasa Iwan bisa menjadi aset Kementerian PUPR dalam hal kepemimpinan. Sebab, jabatan yang diemban Iwan saat ini merupakan kerja sama dengan tiga instansi, yakni Kementerian Agama untuk pendidikan madrasah, pembangunan pasar untuk Kementerian Perdagangan, dan bidang pendidikan untuk Kementerian Pendidikan dan Budaya (Dikbud) serta Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti).

“Butuh leadership yang kuat untuk mengkoordinir keempat kementerian yang fisiknya dikerjakan PU ini. Saya yakin dengan leadership dan kecepatan beliau, dalam waktu yang singkat, jika pekerjaan sudah dalam kontrak dan Inpres juga terbit, saya bisa melihat beliau sebagai pemimpin di Kementerian PUPR,” harap Basuki.

Berkat kelihaiannya memimpin, berinovasi, serta mengerahkan timnya untuk membangun dan menangani berbagai proyek infrastruktur, Iwan Suprijanto dianugerahi Piala Adhigana yang diberikan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) beberapa waktu lalu. Iwan menjadi salah satu pemenang dalam ajang Anugerah ASN 2019 kategori Pejabat Pimpinan Tinggi (PPT) Pratama Teladan.

Untuk diketahui, hingga saat ini, Iwan dan timnya telah melakukan rehabilitasi pada 10.453 sekolah rusak, 1.000 madrasah rusak, pembangunan lanjutan Konstruksi Dalam Pekerjaan (KDP) 41 gedung Perguruan Tinggi Negeri dan 11 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang mangkrak, pembangunan enam venue PON XX Papua, serta membangun/merehabilitasi 11 pasar. (**)

The post ‘Super Team’ Jadi Kunci Pembangunan Infrastruktur Indonesia appeared first on Putraindo News.